FRANK'S SEARCH ENGINE

Minggu, 05 Juli 2009

Ueenak Betul Korupsi!

Oleh FRANKY ADINEGORO*

HARI itu, tidak biasanya Bonar bangun lebih awal. Pemuda lajang asal Batak berusia 30 tahun itu kali ini sudah stand by di atas sepeda motor kesayangannya. Siap untuk memburu penumpang. Hal inilah yang mengagetkan Badrun, teman seprofesinya ketika bertemu di Pangkalan Ojek Sepiring Berdua, tempat mereka biasa mangkal.

“Wah, tumben, kau bangun pagi,” sapa Badrun.

“Iya, Bang. Pusing aku di rumah. Padahal aku masih pengin tidur, tapi, berisik betul di rumah,” jawab Bonar.

“Memangnya, kenapa?”

“Itu, Bang, tetangga aku mau ngawinkan anaknya. Jadi, dari tadi malam rumahnya ramai. Ya, mau hajatan la.”

“O, begitu. Kirain, kau pusing mau minta dikawinin juga,” ejek Badrun lulusan Sarjana Hukum yang ngakunya sudah 5 kali tes CPNS tapi nggak lulus-lulus itu. Makanya dia memutuskan menjadi tukang ojek saja.

“Ah, nggak la Bang, aku masih menikmati hidup membuzang. Nanti kalo sudah banyak duit, baru lah aku kawin, he, he, he,” ucap Bonar sambil mesem-mesem kayak sayur asem. Padahal mukanya memang udah asem.

“Bang, aku baca di Koran, kemarin. Masa, pejabat koruptor dijatuhi hukuman cuma satu tahun. Kok bisa gitu, ya, Bang?” celetuk Bonar seolah mengalihkan tema pembicaraan.

“Ya, iya lah, masa, ya iya dong,” guyon Badrun.

“Serius, la, Bang. Menurut abang, wajar nggak koruptor dihukum cuma satu tahun? Padahal, mereka kan sudah merampok uang negara. Ini, kan, melukai rasa keadilan namanya.”

“Mungkin hakim punya pertimbangan tersendiri. Karena hakim biasanya akan melihat hal-hal yang memberatkan dan meringankan sebelum memvonis seseorang,” terang Badrun.

“Wah, kalo begitu, enak kita korupsi beramai-ramai, ya, Bang. Hukumannya kan ringan.”

“Tet, tet!” Untung muncul sambil mengklakson mereka berdua.

“Dari jauh tadi, saya lihat serius betul ngobrolnya. Ngobrol apaan sih, Bang?” tanya Untung.

“Masalah korupsi, Mas Untung,” tukas Bonar.

“Korupsi? Siapa yang korupsi?”

Nggak, kemarin, Bonar baca di Koran, ada pejabat yang korupsi, tapi, cuma dijatuhi hukuman 1 tahun,” sahut Badrun menjawab rasa penasaran Untung.

“Wah, ringan betul, ya, Bang. Mungkin jaksa sama hakimnya sudah kena suap itu,” celetuk Untung yang usianya 10 tahun lebih mudah dari Badrun.

“Iya, benar itu, Bang!” timpal Bonar mendukung pendapat Untung.

“Wah, kalo yang itu, saya tidak tahu. Kita tidak punya bukti untuk mengatakan jaksa atau hakimnya sudah disuap.”

“Iya, juga, Bang, ya,” ujar Bonar.

“Tapi, kalo memang kita mau tahu apakah jaksa dan hakimnya telah disuap atau tidak, kita pakai jasa paranormal aja,” celetuk Untung yang memang hobi hal-hal berbau klenik.

Untuk masalah klenik ini Untung memang benar-banar gandrung. Bayangkan saja, saat dia ingin menikahi istrinya yang kedua dulu, Untung sempat semedi di dalam kamar khusus selama 3 hari 3 malam. Katanya sih tengah mendalami Ilmu Pelet Raja Binal warisan guru spiritualnya dari Gunung Lawu. Karena sudah tiga malam tidak keluar kamar, keluarganya sempat bingung. Di hari ketiga, siang harinya, istri pertamanya, Sutiyem, mendobrak pintu kamar. Karena dia khawatir dengan kondisi suaminya itu. Dia takut terjadi apa-apa terhadap suaminya.

Braaak! Pintu didobrak. Untung marah bukan kepalang karena telah mengganggu semedinya yang sudah hampir selesai. Ya, gitu, deh. Gagal semedinya untuk mendalami Ilmu Pelet Raja Binal yang konon dikenal sangat ampuh untuk menundukkan kaum Hawa. Tetapi, akhirnya dia jadi juga nikah dengan istrinya yang kedua, Inul Maemunah, meskipun terlebih dahulu berurusan dengan polisi karena memalsukan KTP. Di KTP-nya itu dia mengaku masih single alias belum kawin.

“Paranormal?” Bonar mengernyitkan dahinya.

Kali ini, Badrun dan Bonar seolah tidak memiliki sepatah kata pun. Mereka terdiam sejenak, menatap ke arah Untung, sambil menunggu kalimat yang meluncur lagi dari mulutnya.

“Begini, kita tanyakan saja ke Mak Erot. Saya yakin, melalui Ilmu Terawangannya dia pasti tahu apakah jaksa atau hakimnya telah disuap atau tidak.”

“Loh, kok, Mak Erot, itu kan paranormal spesialis alat vital,” Bonar protes.

Ala, sampeyan itu tahu apa. Selain masalah alat vital, Mak Erot itu punya segudang Ilmu kesaktian lainnya. Wong saya sendiri kok yang pernah menjadi muridnya,” Untung ngotot.

“Eh, eh, eh, ini kok malah kalian yang ribut sih. Sudah, sudah, nggak perlu dibahas lagi. Ceritanya kok sampe ke paranormal segala,” Badrun menengahi.

“Iya, Bang, ngapain mau tahu kasus penyuapan saja sampe mendatangi paranormal segala. Kayak zaman dulu aja,” ejek Bonar, sembari mengerling ke Untung.

“Sudah, sudah, masalah itu lebih baik kita serahkan saja ke Tuhan. Semua perbuatan itu pasti ada balasannya. Wong kita hidup di dunia ini tidak akan lama, kok. Ya, kan?” kata Badrun bijak, laksana Wong Fai Hung eh maksud saya penceramah AA Gym.

“Bang! Ojek, Bang!. Ke pasar, ya!” tiba-tiba mereka dikejutkan suara seorang perempuan ABG. Melihat itu, karuan saja Untung dan Bonar buru-buru mengenakan helm. Seolah-olah sebuah kompetisi, mereka berdua begitu bersemangat ingin membawa penumpang ABG berkulit hitam manis berusia sekitar 12 tahun itu.

“Hei, hei, sekarang giliran siapa, kok, kalian berebutan,” tukas Badrun melihat tingkah kedua temannya itu.

Mendengar suara lelaki yang mereka segani itu, Untung sadar diri. Langkahnya terhenti. Dia mengurungkan niatnya untuk berebut penumpang. Sementara, Bonar segera memboyong si dara manis bak Si Manis Jembatan Ancol itu.

“Maaf, Bang. Saya jadi lupa. Habis, penumpangnya cantik. Saya paling nggak tahan kalo melihat cewek cantik. Serasa mau kawin lagi,” ucap Untung seraya terkekeh-kekeh.

“Wah, kamu bisa kena Undang-undang Perlindungan Anak nanti. Lihat Syekh Puji, nikahnya diributin orang gara-gara ngawinin anak di bawah umur. Nanti kamu didatangi Komisi Perlindungan Anak, bisa dipenjara, kamu,” kata Badrun, serius banget.

“Tapi, yang penting kita ngetop kan Bang. Bisa masuk TV terus diberitakan wartawan infotainment,” canda Untung yang memang doyan kawin itu, sembari menstarter sepeda motornya menjauhi pangkalan.

“Hei, mau kemana?” teriak Badrun.

Tanpa mengeluarkan sepotong kalimatpun, sambil mengarahkan telunjuknya ke suatu arah, Untung bergegas meninggalkan Badrun seorang diri.

*Penulis adalah Praktisi Pers dan Pemimpin Umum Tabloid Hukum Criminal Post

Sabtu, 04 Juli 2009

Menyibak Kehebatan Ilmu Al-Hikmah



Salah satu keampuhan ilmu ini, orang jahat atau yang bermaksud jahat, jika ditoel (colek) saja bisa jatuh.

SUATU ketika, seorang saudagar cengkeh yang sangat kaya tertimpa musibah. Seluruh hasil penjualan cengkehnya dirampok. Setelah kejadian tersebut, datanglah seorang lelaki yang membantu untuk menangkap perampok tersebut. Melalui ilmu yang dimilikinya, dalam waktu tidak terlalu lama, para kawanan perampok itu dengan cepat dapat diringkusnya.

Tertarik dengan kepandaian yang dimiliki sang penolong, akhirnya bergurulah saudagar tersebut. Sang penolong itu tidak lain adalah KH M Saki Abdusyukur, guru besar Ilmu Al-Hikmah dari Desa Cisoka, Tigaraksa, Tanggerang.

Cerita serupa juga pernah dialami oleh Wirta, salah seorang pengamal ilmu ini. Suatu hari, dia didatangi seorang tamu yang tak dikenal. Sebagaimana biasanya masyarakat Indonesia, jika ada tamu maka berjabat tangan adalah hal yang lazim. Tetapi, ada keanehan yang justru terjadi. Ketika dia menjabat tangan tamunya itu, sang tamu malah jatuh tersungkur di hadapannya. Dia sempat terbengong-bengong dengan peristiwa itu.

Akhirnya dia paham, kalau ternyata sang tamu itu mungkin telah berniat jahat terhadap dirinya. Hal ini diketahuinya dari tubuh sang tamu yang membawa sebilah golok yang diselipkan di dalam bajunya.

“Alhamdulillah. Pertolongan Allah telah datang tanpa sepengetahuan kita,” ungkap Wirta.

Ikhwan (sebutan bagi pengamal ilmu Al-Hikmah) lainnya, Hermawan, juga punya cerita menarik. Hari itu, dia tengah berhadapan dengan tiga orang begundal bersenjata tajam. Merasa keadaan tidak menguntungkan, maka dia pun Cuma bisa pasrah. Dalam hatinya, apapun yang akan terjadi dia serahkan kepada Yang Kuasa saja.

Tiba-tiba, salah satu dari kawanan preman itu hendak menghunjamkan sebilah belati ke arah tubuh Hermawan. Namun, peristiwa aneh itu pun terjadi. Pisau yang hendak ditusukkan ke perutnya itu tidak dapat menyentuh kulit Hermawan. Beberapa saat lamanya tangan si preman seolah tak dapat menekan senjatanya. Diam terkaku.

“Melihat kejadian itu, ketiga orang itu lari tunggang-langgang,” kata Hermawan yang tak henti-hentinya mengucap syukur dan kagum dengan ilmu yang dimilikinya itu.

Itulah antara lain kehebatan Ilmu Al-Hikmah yang sampai saat ini masih terus berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia bahkan hingga ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.


Dari Seorang Polisi Bernama M Thoha
Menurut berbagai catatan, KH M Syaki belajar ilmu itu pertama kali kepada seorang polisi bernama Mohammad Thoha pada tahun 1939. Saat itu para pemuda memang tengah giat-giatnya belajar bela diri seperti silat, kung fu, tenaga dalam dan sebagainya untuk melindungi diri dan keluarga dari kondisi yang masih genting terutama untuk melawan penjajah.
Sebenarnya, pada awalnya ilmu itu belum ada nama seperti dikenal saat ini. Setelah Abah Syaki, begitu ia kerap disapa, menguasai ilmu itu dan bisa menurunkan kepada siapa saja, maka ia menamainya dengan sebutan Ilmu Al-Hikmah. Dalam kurun waktu beberapa tahun, Abah Syaki pun mengembangkan ilmu tersebut di daerah Tanggerang dan sekitarnya. Hingga akhirnya Ilmu Al-Hikmah ini memasuki daerah Jakarta pada 1950 yang dikembangkan melalui Yayasan Al-Hikmah yang diketuai oleh AS Chanafie dan selanjutnya berkantor pusat di Jakarta.

Sebagaimana dilansir Buana Minggu (22 Februari 1981), Abah Syaki menuturkan bahwa Ilmu Al-Hikmah ini lebih cenderung sebagai ilmu bela diri bertahan. Sedagkan ilmu lainnya lebih banyak menyerang atau sama sekali tidak dicampur-adukkan dengan ilmu-ilmu lainnya.

“Kalau, toh, ada yang memakai ilmu semacam Al-Hikmah ini dan telah dicampur-adukkan dengan ilmu lainnya, maka itu di luar tanggung jawab Yayasan Al-Hikmah,” kata Abah Syaki.


Menggunakan Otot-otot Perut
Kekuatan Ilmu Al-Hikmah ini berasal dari asma Allah dan do’a-do’a yang diwiridkan setiap sehabis sholat lima waktu. Selain itu, cara pengolahan atau membangkitkan keampuhannya cukup menggunakan otot-otot perut dibarengi dengan rasa pasrah diri kepada Tuhan YME.

“Dalam bela diri ini tidak memerlukan bentrokan fisik, tetapi cukup menggunakan otot-otot perut yang dikencangkan (di-press) sewaktu berhadapan dengan musuh. Insya Allah mereka yang akan berbuat jahat terpental,” kata Ajibakar Yunus, salah seorang guru Ilmu Al-Hikmah yang berdomisili di Curup, Rejang Lebong, Bengkulu.

Ajibakar menambahkan, masih banyak lagi manfaat belajar Ilmu Al-Hikmah. Selain untuk perlindungan diri secara fisik, ilmu ini juga melindungi kita dari serangan sihir, hipnotis bahkan racun.

“Seandainya kita disuguhi minuman atau makanan beracun, maka ketika kita akan menyentuh piring atau gelas tersebut, maka wadah itu akan pecah seketika,” kata lelaki berdarah Lintang Empat Lawang yang berprofesi sebagai pengacara itu. FRANKY

Caleg dan Partai Rakyat Kecewa



Oleh FRANKY ADINEGORO*

SEORANG lelaki berpakaian setelan jas, berpeci hitam, sembari mengangkat tangan kanannya yang dikepalkan. Raut mukanya begitu bersemangat. Di samping foto lelaki gagah itu, tertulis ‘Ayo Pilih Yang Berpihak Kepada Rakyat Kecil’.

Untung cukup lama memelototi baleho seukuran layar tancap yang terpampang tidak jauh dari Pangkalan Ojek mereka itu.

“Itulah caleg-caleg banyak ini. Kalo udah musim Pemilu mereka pasti mendadak dekat dengan rakyat. Sok akrab, sok merakyat. Padahal, kalo mereka sudah jadi anggota dewan, mana ada yang ingat sama kita-kita ini. Ya, nggak, Bang?” celetuk Untung sambil mengepulkan asap rokoknya.

“Ya, namanya saja pejabat. Kita harus maklum. Sekarang ini, mana ada yang betul-betul mikirin rakyat. Soalnya, modal kampanye, kan, harus dibalikin,” timpal Badrun.

“Iya, ya, Bang. Lihat saja Si Miun itu. Padahal dulu, sebelum jadi anggota dewan, dia sering ngumpul-ngumpul sama kita. Sekarang, mana mau lagi dia bergabung sama kita.”

“Kita harus maklum dengannya. Si Miun sekarang, kan, bukan lagi Miun yang dulu. Dia sudah menjadi pejabat penting. Tugasnya banyak. Mungkin dia sangat sibuk dengan tugas barunya sebagai anggota dewan,” ucap Badrun.

“Oh, iya, ya. Para dewan, kan, selalu sibuk. Sibuk studi banding, rapat komisi, dan cari-cari komisi, he, he, he,” Untung mengejek.

“Hus, jangan ngomong sembarangan!”

“Tapi, memang begitu kan kenyataannya. Biasanya, kalo mereka lagi nggak ada ‘proyek’, mereka kelihatan sangat kritis. Mereka berkomentar di surat-surat kabar mengkritisi kinerja pemerintah. Setelah dikasih uang, baru mereka diam. Nggak berstatemen lagi di Koran. Padahal, kinerja anggota dewan saja belum tentu baik,” Untung kelihatan serius.

“Tahu dari mana kamu?” tanya Badrun.

“Wah itu, ilham, Bang. Terlintas begitu saja dari pikiran saya, he, he, he,” Untung bergurau.

“Kita tidak boleh selalu berburuk sangka dengan anggota dewan. Mungkin tidak semuanya anggota dewan yang bertabiat buruk seperti yang kamu sebutkan tadi. Masih ada kok yang benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat, walaupun tidak banyak,” terang Badrun yang sarjana hokum itu.

“Tapi, ada yang lucu lagi, Bang. Kabarnya, ada beberapa caleg yang mulai membiasakan diri berkunjung ke gedung DPR. Entah apa urusannya. Kalo menurut saya sih mereka membiasakan diri ke sana biar pada waktu kepilih nanti sudah nggak terlalu kaget dengan ruangan kerja yang baru. Itu sih kalo kepilih, he, he, he,” sindir Deden, tukang ojek lainnya yang sedari tadi hanya menguping.

“O, benar itu. Mungkin mereka sangat yakin bakal jadi dewan. Apalagi yang dukunnya hebat,” Untung mulai menyalurkan pikiran mistiknya.

“Ah, masak, iya, sih?” timpal Badrun yang memang kurang percaya dengan hal berbau klenik.

“Benar, Bang. Saat ini, jasa paranormal, kan, lagi laris-larisnya dipakai para calon pejabat dan pejabat yang kepingin mencalon lagi. Ada yang disuruh nabur garam di tengah malam, sampai mewiridkan zikir-zikir andalan yang diberikan oleh paranormal atau Kyai mereka,” Untung terus nyerocos.

“O, gitu, ya, Mas,” tanya Deden yang sedikit suka dengan hal berbau gaib.

“Iya. Ceritanya begini. Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke salah seorang kyai saya. Pas di situlah, saya melihat sebuah mobil pejabat tengah parkir di halaman rumah sang kyai. Ketika saya tanya, ternyata dia adalah seorang kepala dinas yang kepingin mencalon bupati di daerah sini,” cerita Untung yang memang masih hobi mendatangi kyai dan paranormal ini. Katanya sich, masih kepingin mendalami ilmu kanuragan dan pengasihan.

“Tapi, masalah pejabat mendatangi paranormal dan kyai itu kan sudah biasa di negeri kita ini. Rasanya wajar-wajar saja,” ucap Deden.

“Memang iya, sih. Tapi, nampaknya Rumah Sakit Jiwa harus menyiapkan lebih banyak kamar. Soalnya, bagi caleg-caleg yang nggak kepilih nanti padahal dia sudah merasa yakin bakalan jadi, maka siap-siap ditampung di Rumah Sakit tersebut, ha, ha, ha,” Untung terbahak-bahak diikuti semua orang yang ada di pangkalan itu.

“Halo, semua. Lagi ngomongin saya, ya!” teriak Bonar tiba-tiba yang muncul dari arah depan mereka.

“Iya, lagi ngomongin soal kamu yang belum kawin-kawin. Padahal, cewek di daerah kita ini kan banyak,” timpal Untung tersenggih.

“Ah, Mas Untung ini bisa saja,” Bonar sambil cengengesan.

“Eh, bawa apa kamu,” tanya Badrun sambil melirik ke saku baju Bonar.

“Oh, ini, Bang. Ini kartu nama Bang Miun. Itu, anggota DPRD kawan kita itu. Katanya dia mau nyalon satu periode lagi.”

“Ooo, jadi, kamu ini tim suksesnya, Nar?” sergah Untung.

“Ya, semacam itulah. Yang penting, ada hepengnya, Mas! Terus, katanya, kalo dia jadi nanti, aku mau diberinya job proyek. Ya, pekerjaan,” jawab Bonar bersemangat.

“Emang, kamu percaya sama janji caleg? Biasanya, kalo udah jadi, janji tinggal janji. Mana ada mereka ingat sama janjinya. Apalagi Si Miun. Dulu semasa dia kampanye, saya kan pernah dijanjiin mau dikasih proyek kalau dia terpilih. Tapi nyatanya, mana? Malahan dia sembunyi-sembunyi kalau saya mau bertamu ke rumahnya,” ujar Untung keki.

“Udah, gitu aja kok diributin,” timpal Badrun menengahi.

“Dari pada kita jadi tim sukses, mendingan kita bikin partai saja. Lalu, kita-kita ini yang jadi calegnya. Gimana, Nar?” kata Untung ngelantur.

“Wah, boleh juga tuh. Kalo begitu aku usul nama partainya nanti Partai Rakyat Kecewa. Biar lebih merakyat, soalnya, sekarang, kan, semakin banyak rakyat yang kecewa dengan partai,” usul Bonar.

“Jangan, mendingan kita namakan Partai Bintang Tujuh saja. Kan lebih keren kedengarannya,” Untung tak mau kalah.

“Setahu aku, Bintang Tujuh, kan, nama sebuah produk. Sudah ada yang pakai nama itu. Kita biasa disomasi orang, nanti,” jawab Bonar bak seorang pengacara.

“Itu urusan gampang. Kita tambah saja sedikit namanya menjadi Partai Bintang Tujuh Perjuangan, gimana? Beres, kan! Ha, ha, ha,” sela Badrun yang sedari tadi menahan sakit perut karena ingin tertawa mendengar obrolan ketiga temannya yang semakin konyol itu.

* Penulis adalah Pemimpin Umum Tabloid Hukum Criminal Post Bengkulu